Showing posts with label Home BERITA PAPUA. Show all posts
Showing posts with label Home BERITA PAPUA. Show all posts

Tuesday, 18 July 2017

Mahasiswa Asal Dogiyai Di Akper Nabire Pertanyakan Dana Akhir Studi


Mahasiswi Asal Kabupaten Dogiyai yang berada di kampus Akper Nabire. (Foto: Ist@)

Dogiyai – Mahasiswa dan Mahasiswi asal kabupaten Dogiyai yang bependidikan pada kelas Pemda di Akademik Keperawatan (Akper) Nabire mempertanyakan Dana Akhir Studi (TA) Tahun 2017 yang hingga kini belum jelas.

“Kami telah menunggu dari bulan maret hingga saat ini Pemda Dogiyai belum memberikan reaksi untuk pembagian Dana Akhir Studi,” kata Salah Satu Mahasiswi Akper Nabire, Theresia Wakey, kepada kabarmapegaa.com, senin, (12/06/2017), Melalui Via Telfon Seluler.

Kata dia, mulai dari bulan maret hingga kini dirinya beserta rekan-rekan lainnya masih menunggu reaksi Pemda Dogiyai, namun belum ada respon positif.

“Kami akan tetap menuntut hak kami kepada Pemda Dogiyai agar segera merealisasikan dana akhir studi. Karena menurutnya,  pihak kampus sedang menuntut untuk melunaskan kekurangan kami,”pungkasnya.

Selain itu, dikatakan, kelas pemda ini, berada pada akhir semester yang pada bulan agustus akan menyelesaikan studi.

“Kami adalah mahasiswa dan mahasiswi akhir semester yang sebentara lagi akan diwisudakan,”katanya.

Sementara, salah satu mahasiswi Akper Nabire, Beatris Makai, mengatakan di bulan Agustus 2017 mendatang dirinya berserta rekan-rekannya akan diwisudakan. Namun, dirinya tak tahu karena biaya belum jelas hingga kini.

“Jadi, kami masih menunggu respon pemda saja,”tutupnya.


Pewarta     : Yan Yuaiya Goo
Editor        : Alexander Gobai

Ini Pres Release Kopkedat Mengenai Team Kaki Telanjang


Mama-mama Suku Korowai


                                                                                    Wamena, 28 Juni 2017



Jayapura - Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil Papua (Kopkedat) mengatakan,sejauh ini tim Kaki Telanjang (Kijang) yang ditugaskan Dinas Kesehatana (Dinkes) Provinsi Papua, sampai saat ini belum tiba di kampung Brukmakot, Korowai. 

Tim Kaki Telanjang yang ditugaskan dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua sampai saat ini belum masuk di Korowai Batu, Brukmakot. Tim Kaki Telanjang sementara ini masih berada di tempat kantor distrik, Seradala semenjak tiba di ibu kota distrik. Selain itu, tim kijang juga tinggal di DKI,ibu kota Yahukimo Masyarakat bersama para penginjil sangat mengharapkan tim satgas bisa melakukan pengobatan di setiap pemukiman warga.
Karena masyarakat di Korowai yang tengah menderita membutuhkan pelayanan intensif. Masyarakat sudah menderita sudah lama. Penanganan kesehatan yang lama, hanya menambah derita sampai banyak masyarakat yang meninggal tanpa adanya penanganan medis. Tim medis yang diutus dinas kesehatan Papua, harus bergerak cepat. Melakukan upaya yang bisa meminimalisir ancaman penyakit kronis dan melakukan pengobatan pencegahan. 
Banyak kasus kesehatan yang belum ditemukan di kalangan masyarakat Korowai. Pada 13 Juni 2017 lalu, ada seorang ibu yang meninggal dunia setelah melakukan persalinan di Brukmakot. Peristiwa ini tepat, tim kaki telanjang berada di ibu kota distrik. Namun jarak dari ibu kota distrik ke Brukmakot cukup jauh, 80-100 km, ditambah dengan akses komunikasi yang terbatas membuat kesulitan bagi masyarakat untuk menghubungi tim kaki telanjang.
Peristiwa diatas hanya sebuah cerminan dari keseluruan di Korowai. Kematian ini bila ditambah dengan sebelumnya, maka sudah berkisa 64 orang meninggal dunia dalam rentan waktu 7 tahun (2011-2017). Sementara khusus penderita penyakit filariasis 37 orang. Disini perluh ditegaskan, bahwa jumlah kematian, penderita kaki gajah berasal dari Brukmakot, Korowai Batu, Ayak, Woman. Belum termasuk dengan kampung-kampung lain.


Korowai yang dikenal dengan rimba hutan, membuat semua pihak sulit memantau kondisi kesehatan masyarakat. Sehingga untuk menghindari dan untuk menjawab persoalan kesehatan orang Korowai. Sehingga diharapkan tim kaki telanjang dapat membawah angin segar bagi masyarakat. Diharapkan tim kijang dapat melakukan pelayanan segera guna menekan rantai kesakitan dan kematian di Korowai. 
Apabila tim medis tidak melakukan penanganan medis yang itensif, maka dikawatirkan akan terus menambah kesakitan, penderitaan dan kematian. Dalam data kami sendiri, terdapat 9 bayi tentunya harus memberikan faksinasi di Posyandu agar tidak menambah kematian di Brukmakot. Sejumlah 9 orang tersebut mesti melakukan pendekatan dan penanganan kesehatan secara dini termasuk beberapa kampung lainnya yang masih rentan terserang penyakit. 
Selain itu, persoalan pendidikan pun di wilayah ini dari tahun ke tahun tak kunjung baik. Hampir semua orang Korowai tidak pernah mendapat akses pendidikan yang baik. Rata-rata orang Korowai belum sekolah. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor utama. Penyebab yang paling nampak adalah belum adanya sekolah dasar, menengah, dan atas. Sekolah seperti di SD Seradala pun tutup lantaran tidak ada tenaga guru. Kini sekolah tersebut ditutupi oleh rerumputan.
Berdasarkan ini, kami KOPKEDAT Papua mendesak kepada: 
1. Dinas Kesehatan kabupaten Yahukimo, untuk melakukan penanganan kesehatan di wilayah Brukmakot, Ayak, Woman dan sekitarnya. Memperhatikan dan mengawasi tim kaki telanjang dari dinas kesehatan provinsi Papua yang sementara ini masih berada di DKI Yahukimo dan sebagian di Seradala.
2. Dinas kesehatan kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Digoel dan Pegunungan Bintang untuk meninjauh persoalan kesehatan dan pendidikan masyarakat untuk suku Korowai menurut masing-masing wilayah administrasi pemerintahan. 
3. Mendesak kepada bupati Yahukimo, Asmat, Boven Digoel dan Pegunungan Bintang untuk memberikan kebijakan khusus di bidang pendidikan dan kesehatan di selueuh wilayah Korowai.
4. Mendesak kepada pemerintah provinsi Papua dalam hal ini gubernur Papua, Lukas Enembe untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap dana otonomi khusus yakni bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah Korowai. 
5. Meminta kepada dinas kesehatan provinsi Papua untuk melakukan pengawasan yang baik terhadap program dan kebijakan kesehatan di empat kabupaten yang berbatasan dengan Korowai.
6. Meminta kepada dinas pendidikan, pemuda dan olah raga provinsi Papua, kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Digoel, dan Pegunungan Bintang agar kembali mengaktifkan sekolah dasar di Korowai maupun wilayah administrasi pemerintahan masing-masing.
7. Mendesak kepada presiden Joko Widodo, agar memberikan satu kebijakan khusus terkait persoalan kesehatan dan pendidikan di Papua khususnya di wilayah suku Korowai.